Rabu, 27 Mei 2020



SEBAIK-BAIKNYA TEMAN SETIA
(Potret keteladanan para ulama)


Al-Lu'luai berkata: "Selama 40 tahun, aku tidak tidur siang ataupun tidur malam, serta tidak beristirahat sambil bersandar kecuali ada sebuah buku yang tergeletak diatas dadaku."


Kecintaan para ulama terdahulu dengan buku sangatlah dahsyat. Sehingga mereka tidak ada rasa lapar, kantuk apalagi kesepian bersama buku.


Asupan mereka sangatlah bergizi jika dengan buku, sampai kelezatannya pun dalam memburu buku diceritakan Adz-Dzahabi dalam Siyar'Alam An-Nubala menyebutkan dalam biografi Al-Mustanshir Billah Abul Ash Al-Hakam bin Abdurrahman Al-Umawi, pemimpin Andalus, 
"Dia adalah orang yang mengukir riwayat hidupnya dengan indah, penuh dengan keutamaan. Dia memiliki kecintaan mendalam untuk membaca serta memburu buku-buku berkualitas dan bermutu, baik yang benar ataupun yang salah. Beliau pun memperoleh sekitar 200 ribu buku".


Beliau selalu membelanjakan emasnya sekadar untuk mendapatkan buku-buku, lalu membayarkan sesuai harga yang ditawarkan penjualnya. Baginya tidak ada kenikmatan baginya kecuali pada buku-buku yang telah didapatkannya.


Ada juga para ulama yang lebih suka bergelut dengan buku daripada bercengkrama dengan manusia .


Diceritakan seorang ulama yang bernama Ibnu A'rabi  dalam jami' Bayan Al-'Ilm Wa Fadhilihi , Ibnu A'rabi pernah diutuskan seorang budak untuk datang kerumahnya setelah budak itu datang lalu budak itu mengatakan, "Aku tidak melihat seorangpun bersama nya, kecuali hanya ada beberapa buku didepannya yang sedang beliau baca. Beliau membaca satu buku kemudian pindah ke buku yang lain."


Ibnu A'rabi pun ditanya kemudian dia menjawab, "Teman-teman setia tak akan membuatmu jemu bila berbicara dengannya. Merekalah para cendekia penjaga amanah kala harus berpisah ataupun bersama. Mereka membekali dengan ilmu masa lalu, pemahaman, pendidikan serta pandangan benar. Tak ada kekhawatiran dari fitnah, jeleknya pergaulan, ucapan serta tindakan. Jika kau katakan, 'mereka hidup', maka engkau tidak berbohong pula."


Ada seseorang bertanya kepadanya, "siapakah teman setia yang mendampingi mu??" Dia pun menepuk buku-bukunya sambil mengatakan, " iniii." Orang tadi bertanya lagi, "siapa??". "Mereka yang ada didalam buku-buku ini,", tegas beliau.


Kekasihku  adalah buku yang takkan muak denganku 
Meski harta menjadi sedikit dan ketampanan mulai susut
Buku sang pujaan hatiku, dikala tak ada tambatan kalbu 
Kan kurayu jikalau dia memahami rayuan kalbu 
Buku... Teman setiaku kala duduk, yang takkan merasa jemu
Penjelasan kebenaran yang tak membuat jemu 
Buku...lautan yang tak menarik pemberiannya 
Membanjiriku dengan harta, meski harta menahannya
Buku... Petunjuk terbaik untuk meraih asaku 
Darinya selalu ada pengalaman baru dan penerang langkahku


Dedikasi kecintaan ulama dalam menjaga ilmu serta gila membaca suatu dobrakan maupun cambuk bagi generasi sekarang.
Ditengah banjirnya media serta teknologi seharusnya menjadikan pula pikiran maju dalam mengembangkan ilmu.
Namun sangat disayangkan pula masih banyak yang menggunakan teknologi tidak pada tempatnya. 


Simple nya berpikir sehingga banyak pula buku-buku hanya menjadi pajangan dirak buku.
Adapula yang memanfaatkan media sebagai bahan supaya terlihat lebih ringkas dibawa.
Intisari dari nikmat nya bersama buku pun menjadi berkurang. 


Mereka melupakan harta yang berharga yang mengungkapkan sebuah potret cemerlang nya berpikir kehidupan para ulama, mereka melupakan bagaimana perhatiannya mereka terhadap buku, buku selalu menemani mereka baik ketika bepergian maupun ketika berada dirumah, mereka selalu berada dalam kondisi yang mengagumkan. Sungguh menakjubkan..!!!


Berbalik arah dikehidupan sekarang. Sebagian mereka menyangka bahwa dirinya telah berilmu, sehingga tidak perlu lagi membaca dan menelaah. Mereka begitu merasa cukup dengan gelar, ijazah, pangkat dan jabatan yang telah diraih.


Sekarang justru malah semakin bersantai-santai diatas sofa sambil membentang bantal. Seolah trend sekali jika termasuk kaum rebahan, dan gelar sudah berjejer dibelakang nama menjadi puas tersendiri tanpa mau bersungguh-sungguh mencari ilmu. Mereka lebih menarik diri dari mencari ilmu dan berbalik mengejar dunia, sehingga gelarpun menipu mereka.

Penulis : Hafsah Berisigef



#KomunitasBloggerMahasiswa
#BloggerBengkulu
#GilaBacaAlaUlama
#BloggerMahasiswaSe-Indonesia

Jumat, 15 Mei 2020


PEREMPUAN HAUS PENGERTIAN


Ada banyak cerita setelah ku lempar segala curahan hati disampingnya. Ia seolah mengubah rasa hambar menjadi terjawab segalanya.


Terkadang aku sempat bingung harus bagaimana hanya sekedar mengucapkan terimakasih ini. Dia begitu merubah kan segala isi dalam gejolakan jiwa yang kemarin begitu mempertahankan gengsinya.


Memang benar, sejak dia datang. Aku seolah lupa rasa sakit kembali, dia begitu pandai dalam meluluhkan. Ku pikir ini hanya modusnya para lelaki saja, ternyata tidak. Statement bahwa lelaki itu sama kini telah menghapus dengan perlahan ketika dia datang. Dia juga merubah sudut pandang ku hal ini.


Aku saja yang tak pandai bersyukur atas menyadari kehebatannya. Hatiku begitu kaku untuk mengungkap dulu. Ku pikir inilah caranya jaga harga diri perempuan. 


Dengan uring-uringan dulu, seperti manusia tak jelas, perempuan memang sering begitu.
Agar dipahami lelaki ia membuat gaya supaya diperhatikan lebih.


Tapi setelah ditelaah itu memang sifat aslinya perempuan. Katanya sih sifat natural yang telah ada dalam dirinya. Bener itu nyata dalam diri perempuan masing-masing. 


Aku tak pandai mengerti sebuah pola pikir perempuan mendalam, namun sedikit tentang ini aku cukup tau. Karena mau profesi apapun bagiku ya nama nya perempuan pasti ingin dimengerti. 


Ku kira sekelas perempuan menguasai psikologi tidak akan uring-uringan dengan pasangannya. Ternyata semuanya sama. Alhasil pasti ingin dimengerti walaupun ia tau bahwa lelaki sulit akan kepekaan dalam pikirannya. 


Seharian aku sengaja mematikan data selulerku, dan berharap akan banyak spam notifikasi permintaan maaf darinya. 


Aneh sebenarnya yang salah ini siapa? Aku bergumam sendiri dalam hati. Terkadang perempuan benar-benar berubah menjadi manusia yang tak masuk logis.


Tapi aku merasa senang melakukan ini, lagi-lagi aku berpikir ini caraku melihat kesabaran nya. Padahal aku begitu tau bahwa lelaki tak begitu senang menebak isi hati perempuan. Tetapi demi sebuah ingin dimengerti aku berlagak bodo amat akan hal ini.


Penulis:Hafsah Berisigef




JARAK PEMISAH


Pagi ini semua terlihat pilu, biasa nya berapi-api namun segala rasa redup dan dingin berembun.


Ku beranikan buka ponsel dengan seribu bayangan dipikiran. Masih membekas diingatan bahwa tragedi semalam adalah detik terakhir aku menyapa dia.


Sempat emosi menyulut dijiwa, namun semua sudah terlambat. Kita telah menjadi dua orang asing yang dibuat dengan sengaja lagi seperti waktu kala awal jumpa.


Aku terus menyalahkan diri, sempat bingung juga! Yang salah aku atau dia. Sudahlah, aku tak menyalahkan keduanya. Tetapi bukan bearti benar semuanya. Kita hanya terperangkap dilingkaran jarak pemisah yang terkadang bertemu hanya sekedar tanpa memanfaatkan waktu sebeharga ketika awal bertemu.


Kau sibuk dengan ponsel, begitupun aku. Saling beradu dikira orang kita dua orang yang beradu siapa kecepatan dalam sebuah game.
Tapi nyatanya itu semua pemecah kecanggungan diantara kita. Lidah kita sesama kelu tak mampu memulai satu sama lain. Hingga pulang kerumah masing-masing membawa kedongkolan dihati dan kurang kepuasan waktu berkualitas untuk berbicara sebagai dua orang kekasih.


Tapi sudahlah, jarak memang hebat membuat kita menjadi lupa bahwa kita pernah sedekat nadi. Tapi lagi-lagi selama jarak memisahkan kita telah berubah begitu cepat. Kita bagai dua orang yang tak cekatan dalam mengambil keputusan. Hingga timbullah beberapa prasangka setelah pergi. 


Kau menuduhku terlalu berambisi untuk bertemu, namun aku sebaliknya. Beranggapan diri mu sama sekali tak menghargai akan sebuah temu. Hingga cekcok dimulut, otak kacau sampai mempertahankan ego dan gengsi masing-masing, malahan kita memilih bubar menjadi manusia asing.


Kini hari-hari itu kembali seperti sedia kala sebelum kenal dirimu. Tak ada notifikasi ucapan selamat pagi lagi dari dirimu.
Aku cukup menghela nafas begitu panjang sambil berucap sudahlah semua telah berakhir dengan payah.


Penulis: Hafsah Berisigef



Senin, 11 Mei 2020






LUMBUNG LAMBUNG

Semerbak harum bau masakan mereka
Membuncahkan aroma rasa  pada lambung yang ada

Mata menatap mulut menggangga

Pikiran berduka hatipun luka

Berharap ada tangan Tuhan mengulurkan sampai perut tak lagi iba

Lumbung dipasung...

Lambung dikepung busung...

Ia datang tak semata-mata pemulih tenaga

Namun sesuap masakan itu mampu ia bertahan lebih lama

Agar dapat menyaksikan para yang kaya

Agar dapat menyaksikan tangan  para yang kuasa

Agar dapat melihat mana yang simpati dan empati

Agar dapat melihat mana yang peduli

Agar dapat merasakan mana yang mampu mengasihi

Agar dapat merasakan mana yang benar-benar mengobati

Lumbung dipasung..

Lambung dikepung busung...

Itulah kesaksian dinegeri anarki


Penulis : Hafsah Berisigef