SEBAIK-BAIKNYA TEMAN SETIA
(Potret keteladanan para ulama)
Al-Lu'luai berkata: "Selama 40 tahun, aku tidak tidur siang ataupun tidur malam, serta tidak beristirahat sambil bersandar kecuali ada sebuah buku yang tergeletak diatas dadaku."
Kecintaan para ulama terdahulu dengan buku sangatlah dahsyat. Sehingga mereka tidak ada rasa lapar, kantuk apalagi kesepian bersama buku.
Asupan mereka sangatlah bergizi jika dengan buku, sampai kelezatannya pun dalam memburu buku diceritakan Adz-Dzahabi dalam Siyar'Alam An-Nubala menyebutkan dalam biografi Al-Mustanshir Billah Abul Ash Al-Hakam bin Abdurrahman Al-Umawi, pemimpin Andalus,
"Dia adalah orang yang mengukir riwayat hidupnya dengan indah, penuh dengan keutamaan. Dia memiliki kecintaan mendalam untuk membaca serta memburu buku-buku berkualitas dan bermutu, baik yang benar ataupun yang salah. Beliau pun memperoleh sekitar 200 ribu buku".
Beliau selalu membelanjakan emasnya sekadar untuk mendapatkan buku-buku, lalu membayarkan sesuai harga yang ditawarkan penjualnya. Baginya tidak ada kenikmatan baginya kecuali pada buku-buku yang telah didapatkannya.
Ada juga para ulama yang lebih suka bergelut dengan buku daripada bercengkrama dengan manusia .
Diceritakan seorang ulama yang bernama Ibnu A'rabi dalam jami' Bayan Al-'Ilm Wa Fadhilihi , Ibnu A'rabi pernah diutuskan seorang budak untuk datang kerumahnya setelah budak itu datang lalu budak itu mengatakan, "Aku tidak melihat seorangpun bersama nya, kecuali hanya ada beberapa buku didepannya yang sedang beliau baca. Beliau membaca satu buku kemudian pindah ke buku yang lain."
Ibnu A'rabi pun ditanya kemudian dia menjawab, "Teman-teman setia tak akan membuatmu jemu bila berbicara dengannya. Merekalah para cendekia penjaga amanah kala harus berpisah ataupun bersama. Mereka membekali dengan ilmu masa lalu, pemahaman, pendidikan serta pandangan benar. Tak ada kekhawatiran dari fitnah, jeleknya pergaulan, ucapan serta tindakan. Jika kau katakan, 'mereka hidup', maka engkau tidak berbohong pula."
Ada seseorang bertanya kepadanya, "siapakah teman setia yang mendampingi mu??" Dia pun menepuk buku-bukunya sambil mengatakan, " iniii." Orang tadi bertanya lagi, "siapa??". "Mereka yang ada didalam buku-buku ini,", tegas beliau.
Kekasihku adalah buku yang takkan muak denganku
Meski harta menjadi sedikit dan ketampanan mulai susut
Buku sang pujaan hatiku, dikala tak ada tambatan kalbu
Kan kurayu jikalau dia memahami rayuan kalbu
Buku... Teman setiaku kala duduk, yang takkan merasa jemu
Penjelasan kebenaran yang tak membuat jemu
Buku...lautan yang tak menarik pemberiannya
Membanjiriku dengan harta, meski harta menahannya
Buku... Petunjuk terbaik untuk meraih asaku
Darinya selalu ada pengalaman baru dan penerang langkahku
Dedikasi kecintaan ulama dalam menjaga ilmu serta gila membaca suatu dobrakan maupun cambuk bagi generasi sekarang.
Ditengah banjirnya media serta teknologi seharusnya menjadikan pula pikiran maju dalam mengembangkan ilmu.
Namun sangat disayangkan pula masih banyak yang menggunakan teknologi tidak pada tempatnya.
Simple nya berpikir sehingga banyak pula buku-buku hanya menjadi pajangan dirak buku.
Adapula yang memanfaatkan media sebagai bahan supaya terlihat lebih ringkas dibawa.
Intisari dari nikmat nya bersama buku pun menjadi berkurang.
Mereka melupakan harta yang berharga yang mengungkapkan sebuah potret cemerlang nya berpikir kehidupan para ulama, mereka melupakan bagaimana perhatiannya mereka terhadap buku, buku selalu menemani mereka baik ketika bepergian maupun ketika berada dirumah, mereka selalu berada dalam kondisi yang mengagumkan. Sungguh menakjubkan..!!!
Berbalik arah dikehidupan sekarang. Sebagian mereka menyangka bahwa dirinya telah berilmu, sehingga tidak perlu lagi membaca dan menelaah. Mereka begitu merasa cukup dengan gelar, ijazah, pangkat dan jabatan yang telah diraih.
Sekarang justru malah semakin bersantai-santai diatas sofa sambil membentang bantal. Seolah trend sekali jika termasuk kaum rebahan, dan gelar sudah berjejer dibelakang nama menjadi puas tersendiri tanpa mau bersungguh-sungguh mencari ilmu. Mereka lebih menarik diri dari mencari ilmu dan berbalik mengejar dunia, sehingga gelarpun menipu mereka.
Penulis : Hafsah Berisigef
#KomunitasBloggerMahasiswa
#BloggerBengkulu
#GilaBacaAlaUlama
#BloggerMahasiswaSe-Indonesia
#BloggerMahasiswaSe-Indonesia

Mantab
BalasHapusSyukron ka. Kalian juga mantab
HapusBacalah untuk ilmu
BalasHapus😊
Hapus